24 Maret, 2009

Ibu



Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah

Jangan tergesa. Ini adalah harta karun

Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah

Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi

Bagi para ibu, kamu akan mencintainya



Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.

’Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.

Pemandunya menjawab: ’Ya, dan jalannya berat.

Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini...

Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’



Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik

Dari pada tahun-tahun ini.

Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka

Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.

Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:

‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’



Lalu malam tiba bersama badai.

Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.

Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantolnya.

Anak-anak itu berkata: ’Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.

Tak ada yang dapat menyakiti kami.’




Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan

menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:

’Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’ Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.

Saat sampai di puncak, mereka berkata: ’Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.’





Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:

’Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan

Menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya

Memberi mereka kekuatan.’



Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.

Awan perang, kebencian dan kejahatan.

Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.

Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’

Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi

Yang menuntun mereka melalui kegelapan.

Dan malam harinya ibu itu berkata: ’Ini hari yang terbaik.

Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.



Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.

Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.

Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.

Saat jalannya sulit, mereka membopongnya.

Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat

Sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.

Ibu berkata: ’Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.

Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.

Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan

anak-anak mereka ada di belakang mereka.’

Dan anak-anaknya menjawab: ”Ibu selalu akan berjalan bersama kami...

Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’

Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri...

dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.

Dan mereka berkata: ”Kita tak dapat melihat ibu lagi.

Tetapi dia ada & masih bersama kita.

Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan.

Ia senantiasa hadir dan hidup.

Ibumu selalu bersamamu….

Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan

Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci

Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.

Ibumu hidup dalam tawa candamu.

Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.

Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.

Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu

Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.

Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

Semoga kita tidak pernah mengandaikan begitu saja ibu kita…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar